Wednesday, September 25, 2013

tentang riana

masih tentang riana, sahabatku.
aku semalaman ini duduk termenung dihadapannya,,, aku tak ingin berkata apapun.
bahkan sebenarnya akupun ingin pulang saja saat melihatnya seperti ini.
dia menangis.
itu bukan hal baru bagiku.
tapi tangisannya kali ini begitu nampak perih.
terlihat begitu memilukan... sepertinya kali ini dia begitu sakit, begitu merasakan sakit.
aku hanya membiarkannya mengeluarkan air mata semampunya, sampai dia lelah menangis dan akhirnya berhenti.
tapi aku salah, duduk diam tiga jam itu membuatku lelah.
hanya melihatnya yang terus menangis tanpa ingin bicara apaun.
aku tau masalahnya tentang apa.
aku tau sebab ia begitu terlihat menderita.
aku tau mengapa dia begitu terlihat sakit hati, terlihat begitu terluka.
tapi aku tak ingin bertanya apapun padanya. aku hanya menunggu ia mau bicara padaku.
duduk tiga jam itu membuatku ikut terlarut dalam kesedihannya..
aku marah,, yah.. marah...
namun air mataku juga malah ikut menderas seperti tangisnya.
huh...aku ikut-ikutan jadi orang bodoh yang menangisi hal yang bukan menjadi urusanku.
tapi riana terlihat begitu sakit..
tidak lama setelah tiga jam berlalu, ia mulai ingin mengatakan sesuatu padaku..
ku tatap saja wajahnya yang bulat itu sambil menunggu apa yang kira-kira akan dia katakan padaku.
dia menatapku dengan bibir bergetar,
dia menatapku dengan hidung memerah..
dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca,
dia menatapku dengan kelopak mata yang nampaknya tak sanggup menahan buliran air mata.
yah... dia mulai berbicara..
"dhede..."
hanya itu yang dia ucapkan kemudian kembali terlarut dalam kesedihannya.
sumpah, aku bingung, dia hanya mengucap satu kata lalu menangis lagi.
dia hanya menyebut namaku, kemudian kembali terlihat perih...
dan tangisannya itu sudah cukup lama bagiku...
"riana,, tangismu itu sudah kelewatan, kelopak matamu membesar,,
dan terlebih lagi, ini sudah tengah malam,,
ayo tidur...."
kataku dalam hati sambil melihatnya yang masih sesenggukan.
aku mulai merapatkan punggungku ke kasur, batin ku berontak ingin segera terlelap...
ayolah,, ini sudah begitu larut, namun riana tak juga berhenti....
mataku mulai tertutup, namun aku belum tidur, telingaku masih berfungsi dengan baik, masih bisa mendengar dengan jelas...
ku dengar samar riana bergumam...

"aku sayang kamu...sayang...sangat sayang...bisakah kau merasakannya?
aku hanya ingin sedikit perhatian darimu, sedikit saja, hanya sedikit diantara banyak waktu mu, diantara seluruh waktu mu yang kau gunakan untuk hal lain, hal lain itu begitu penting, aku tau itu...
makanya aku hanya minta sedikit perhatian itu. aku bohong, yah.. aku salah,,, aku tau aku salah...aku bersalah karna hanya ingin dapat perhatianmu. itu saja, tidak lebih...aku ingin aku ada disela kesibukanmu. di waktumu yang kini sudah tak banyak untukku, meski aku tau, sebagian waktu itu nantinya akan jadi milikku juga jika memang kita berjodoh. tapi kali ini aku hanya sedikit ingin perhatianmu. namun aku tak mau malah telihat seperti orang yang sedang mengemis perhatian. aku berbohong,,, yah.. itu salah, aku tau itu, dan sekali lagi itu hanya karna aku ingin perhatianmu. hanya ingin sedikit perhatianmu...
aku sayang kamu..." gumam riana di tengah isakan tangisnya.

aku menunggu kata-kata selanjutnya dari riana. dia masih terdengar bergumam, tapi sudah tak terdengar begitu jelas...
aku menunggu gumamnya yang jelas, agar aku tak bertanya apa-apa padanya. cukup mendengar saja.
tapi lama ku tunggu riana tak juga berkata sepatah kata apapun lagi. aku memutuskan membalikkan badanku untuk melihatnya. dan benar saja, riana tertidur, tertidur dalam tangisnya, tertidur dalam harapnya, tertidur dalam kesedihannya.

yah,, benar saja dugaanku, dia seperti itu karena lelakinya.
masalahnya belum terlalu clear bagiku, tapi aku cukup tau, sahabatku seperti ini karena lelakinya.
dan aku tak pernah mau ikut berurusan dengan lelakinya, cukup aku ada saat riana butuh...
ku tarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuh riana yang terlelap.

dan aku ?
tentu saja ikut terlelap.

No comments:

Post a Comment