Hari ini, ku pikir, riana sudah tak akan bercerita lagi tentang kisahnya, tentang harinya, tentang bahagianya, tentang sedihnya, tentang harapnya, tentang cemasnya, dan semua tentang dirinya.
sore ini, aku duduk di teras rumah, sambil membaca bahan kuliah buat besok, tiba-tiba riana datang, duduk disampingku, namun tak berkata sepatah katapun.
Ujung mataku melihatnya yang memang hanya duduk sambil memandang lurus ke depan, entah apa yang di pandanginya.
"kenapa na?" tanyaku sembari menyeruput kopi yang ibu buat tanpa menoleh padanya.
tapi yang ditanya malah diam saja...dan ku ulangi pertanyaan yang terabaikan.
"kenapa na?" kali ini aku menatap kearahnya.
"gak tau dhe." jawabnya singkat. ku palingkan pandanganku, kini aku melihat lirus kedepan, memandang tanaman ibu yang mulai tumbuh.
"dia lagi? na,,pacaran itu proses., tapi kalau seperti ini, aku sendiri nggak tau apa tujuan kalian sama-sama, saling menyakiti...udahlah na..." kata ku dengan sedikit menekan kata-kata sambil menatap dalam ke riana, lalu kembali menyendarkan punggungku kala riana tak merespon apa-apa hingga beberapa saat kemudian ia berkata "aku sayang sama dia dhe, sayang banget." air mata riana turun, aku tak tau disadarinya atau tidak. kau membaca raut wajahnya yang mungkin telah lelah dengan semua yang ada.
aku tak berkomentar banyak. hampir dua tahun riana bersama lelakinya, dan lebih banyak keadaan dimana riana meneteskan air mata, bahkan saat sendiri.
kembali ku tatap tanaman hias ibu yang mulai tumbuh..dan menerawang ke masa lalu.
No comments:
Post a Comment